Series Baitul Maqdis-7: Pewaris Jihad Terbaik (Linimasa Khalifatur Rasul Abu Bakar As-Siddiq & Amirrul Mu'minin Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhumaa)

  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Bestie, ketika Rasulullah diangkat menjadi Nabi nih, ada Asabiqunal Awwalun kan? Nah itulah orang-orang yang pertama beriman, beberapa diantaranya yaitu:  

1. Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid radhiyallahuanha. Penting kita lihat bagaimana, yang pertama beriman adalah seorang perempuan 
2. Zaid bin Haritsah bin Syarahil Al-Kalbi radhiyallahuanhu.  
3. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu 
4. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahuanhu. Merupakan shahabat Nabi yang pertama kali beriman. Abu Bakar, tanpa berpikir dulu, langsung mengiyakan dan mengimani risalah Nabi , karena telah melihat akhlaq keseharian Nabi Dan setelah beliau menerima Islam, beliau langsung bergerak berdakwah.

    Lalu orang-orang yang berhasil bersyahadat melalui wasilah dakwah Abu Bakar radhiyallahuanhu:  
- Utsman bin Affan Al-Umawi radhiyallahu ‘anhu 
- Abdurrahman bin Al-Awwam Az-Zuhri radhiyallahu ‘anhu 
- Sa’ad bin Abi Waqqash Az-Zuhri radhiyallahu ‘anhu 
- Thalhah bin ‘Ubaidillah At-Talmi radhiyallahuanhu 

  

Ikatan Dengan Baitul Maqdis (Periode Mekkah)

    Tahap yang dilakukan Nabi dalam pembebasan Baitul Maqdis: Mengaitkan Hati - Jiwa - Pikiran para Sahabat radhiyallahuanhum. 

  

    Kapan perintah shalat turun kepada Nabi Muhammad ? Perintah shalat lima waktu memang turun saat Isra’ Mi’raj, dan turun pada tahun ke-10 kenabian. Pertanyaan berikutnya: Bila perintah shalat lima waktu turun saat Isra’ Mi’raj, maka apakah tahun-tahun sebelumnya Nabi tidak shalat? Perintah shalat lima waktu memang turun saat Isra’ Mi’raj, dan turun pada tahun ke-10 kenabian. Tetapi sejak Nabi diutus menjadi Nabi dan Rasul, sebenarnya telah ada perintah shalat. Perbedaannya adalah bentuknya. Sebelum Isra’ Mi’raj belum shalat lima waktu seperti yang kita ketahui sekarang. Di Al-Qur’an dijelaskan bahwa bentuk shalat sebelum Isra’ Mi’raj itu tiga waktu: Pagi, Petang, dan Malam. 

  

    Ini dikuatkan di dalam surah yang turun setelah Surah Al-‘Alaq, yaitu Surah Al-Muzzamil ayat 1-5. “Hai orang yang berselimut [Muhammad], bangunlah [untuk shalat] di malam hari kecuali sedikit [daripadanya], [yaitu] seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.”Jadi saat itu, perintah shalat malam adalah wajib. Seiring berjalan waktu, shalat malam berubah, dari wajib menjadi sunnah. Namun saat Surah ini turun, maka Nabi melaksanakannya hampir sepanjang malam. Sepertiga malam shalat, dua pertiganya Beliau shalat. Jadi perlu kita pahami bahwa, sebelum Isra’ Mi’raj sudah ada perintah shalat. Konsekuensinya, ketika shalat, menghadap kemana? Ternyata, Baitul Maqdis-lah kiblat Shalat Nabi dan para Shahabat ketika itu. 

  

    Dari Ibnu Abbas, "Rasulullah shalat menghadap ke Baitul Maqdis semasa ia di Mekkah dengan Ka'bah berada di tengah-tengahnya. Ketika ia hijrah ke Madinah, ia tetap menghadap Baitul Maqdis selama 16 bulan sebelum diperintahkan menghadap ke Ka'bah" (Musnad Ahmad) Artinya, satu tahun setengah setelah Beliau hijrah ke Madinah, Beliau masih menghadap ke Baitul Maqdis. Bila dijumlahkan periode Mekkah 13 tahun ditambah satu setengah tahun setelah hijrah ke Madinah, maka total Beliau dan para Shahabat menjadikan Baitul Maqdis sebagai kiblat adalah 14,5 tahun.Artinya, selama mayoritas hidupnya Nabi , Beliau   berkiblat, terkoneksi, dan terhubung dengan Baitul Maqdis. Dari sini, kita harus bisa memahami ikatan hati Beliau secara religius kepada Baitul Maqdis: sangat erat sekali. 

  

Posisi Baitul Maqdis tidak pas di utara Mekkah, namun miring sedikit ke kanan  

    

Selain menjadi Kiblat, banyak sekali surah-surah pendek Al-Qur’an yang berhubungan dengan Baitul Maqdis, dibaca Rasulullah sedari awal shalat di periode Makkah:

  • Surah At-Tiin

Buah tin dan buah zaitun. Sudah mahsyur bagi orang-orang Makkah, Buah tin dan buah Zaitun hanya ada di wilayah Syam yang di dalamnya mencakup Baitul Maqdis.

  • Surah Al-Anbiya

Di dalam Surah ini, Allah menceritakan kepada Nabi tentang nabi-nabi sebelumnya. Jadi, seperti yang kita ketahui, sepertiga isi Al-Qur’an berisi kisah. Di dalam sepertiga itu, mayoritasnya bercerita tentang nabi-nabi yang berhubungan, baik langsung maupun tidak langsung, dengan Baitul Maqdis. Misalnya, sekilas saja, kita mengetahui bahwa Nabi Isa lahir di Baitul Maqdis. Begitu juga mengenai ibundanya, yaitu Maryam binti ‘Imran, yang kita mengenal proses melahirkan dan mengandungnya. Nabi Zakariyya, Nabi Yahya, Nabi Sulayman, Nabi Daud, Nabi Yusuf, Nabi Ibrahim.

  • Surah Al-Israa

Bercerita tentang mukjizat Israa’ Mi’raj yang berhubungan dengan Baitul Maqdis.

  • Surah Ar-Ruum

Bercerita tentang Pertempuran antara dua kerajaan superpower antara Romawi dan Persia. Dalam Surah ini, secara tidak langsung, disebutkan kejadian di wilayah sekitar Baitul Maqdis (persisnya wilayah Laut Mati). Surah Ar-Ruum turun di tahun kelima kenabian, masa di mana ummat Islam masih sedikit jumlahnya dan dalam keadaan dipersekusi oleh Kaum Quraisy. Saat itu, hubungan antara pertempuran tersebut mungkin masih sulit dihubungkan dengan keadaan kaum Muslim saat itu. Ini adalah hikmah yang Allah buka untuk menyambungkan ummat Islam dengan Baitul Maqdis. Jadi, Allah sudah memberikan petunjuk tentang Baitul Maqdis adalah wilayah yang penting untuk diperhatikan, hal ini menandakan sudah adanya ikatan jiwa atau spiritual dengan Baitul Maqdis. Pada zaman Rasulullah SAW penjajah Baitul Maqdis adalah Romawi dan Persia, sedangkan zaman sekarang yaitu zionis Israel.

  

      Surah Ar-Ruum turun pada tahun ke-5 kenabian, ketika umat muslim masih sedikit dan masih diperkusi oleh kaum kafir Quraisy dan pada tahun ini juga ada yang hijrah ke Abbasya. Ini menandakan bahwa kita harus peduli dengan wilayah yang Allah pentngkan/sucikan walaupun jauh. Secara pikiran sudah diperintahkan Allah untuk mengikuti apa yang terjadi di Baitul Maqdis sekalipun dalam ranah politik.

    Ketika Surah Ar-Ruum turun itu juga terjadi kehebohan di Makkah. Karena kaum kafir Quraisy merasa senang dengan kemenangan Persia atas Romawi Timur. Karena mereka merasakan adanya ikatan sebagai sesama penyembah berhala. Abu Bakar merespon ayat ini dengan melakukan taruhan dengan Ubay bin Khalaf yang merupakan pembesar Quraisy. Saat itu, belum ada syariat haramnya taruhan. Saat itu, Romawi Timur sungguh kalah telak, karena banyak sekali wilayah kekuasaannya yang direbut oleh Persia. Rasa-rasanya mustahil Romawi Timur akan bangkit kembali.Pada saat itu, naluri keimanan Abu Bakar merespon, untuk mendukung ayat Al-Qur’an Surah Ar-Rum yang mengabarkan bahwa setelah nanti Romawi kalah, Romawi akan menang kembali. Respon Abu Bakar ini, seperti melawan arus opini pengamat politik mayoritas saat itu. Karena Abu Bakar mendukung apa yang dikatakan di dalam Al-Qur’an, bahwa Romawi kelak akan memutarbalikkan situasi. Beliau taruhan bahwa tiga tahun lagi Romawi akan menang. Ini diceritakan oleh Abu Bakar kepada Nabi .  

  

    Ketika mengetahui ini, maka Beliau mengatakan naikkan saja sampai sembilan tahun. Dan Abu Bakar pun menurutinya, dan datang kepada Ubay bin Khalaf untuk menaikkan jumlah taruhan dan jumlah prediksi kemenangan menjadi sembilan tahun. 

  

    Abu Bakar adalah satu-satunya shahabat yang merespon ayat ini sebagai bentuk aksi nyata terhadap ayat Al-Qur’an yang turun, bahkan mempertaruhkan seluruh hartanya untuk mendukung kebenaran Al-Qur'an dan juga sebagai penguat iman kepada shahabat yang lain, terutama untuk yang baru masuk Islam. Abu Bakar selalu lebih unggul dalam merespon kebenaran Al-Qur'an. Sembilan tahun kemudian, bertepatan dengan kemenangan Umat Islam dalam Perang Badar, datanglah berita bahwa Romawi mulai perlahan tapi pasti, mulai menyerang balik. 

  

    Dan karena ikatan Abu Bakar dan para Sahabat dengan Baitul Maqdis cukup kuat: lagi-lagi Abu Bakar melebihi sahabat-sahabat yang lain. Seperti mendirikan masjid di sekitaran rumahnya. Beliau Shalat di sini dan terlihat oleh orang-orang Makkah. Di sana beliau shalat dan khusyumenangis saat membaca Al-Qur’an di kala shalat. Ini adalah bentuk dakwah Abu Bakar. Ini adalah bukti bagaimana Abu Bakar mengkonversi keimanan menjadi aksi nyata juga. 


    Pada tahun ke-7 kenabian atau 3 tahun sebelum Isra' Miraj terjadilah peristiwa pemboikotan, dan merupakan peristiwa yang sangat berat untuk Nabi dan Ummat Islam di Makkah saat itu, boikot tersebut dari segi politik, ekonomi, dan sosial. Lokasinya di lembah Abu Thalib, wilayah Bani Hasyim. Boikot dilakukan selama tiga tahun, tanpa ada pasokan logistik masuk. Peristiwa ini sampai memberikan efek kepada Ibunda Khadijah, karena ummat tidak mendapatkan kehidupan yang layak. Di akhir periode boikot, Ibunda Khadijah pun wafat, dan yang kemudian disusul oleh wafatnya paman Beliau (yang saat wafat, paman Beliau yaitu Abu Thalib masih dalam keadaan tidak beriman). Ini menyebabkan guncangan jiwa yang sangat dahsyat untuk Nabi . Di dalam buku-buku Sirah, periode ini disebut sebagaiAamul Huzni/Tahun Kesedihan. Dan kemudian terjadilah peristiwa Dakwah di Thaif yang sangat berat bagi Beliau . 



    Setelah masa-masa yang berat ini, Allah membukakan Baitul Maqdis. Rasulullahseperti dihibur dengan Baitul Maqdis. Dari sini kita bisa mengambil inspirasi bagaimana Baitul Maqdis menjadi pusat harapan, pusat kebahagiaan. Karena, Rasulullah setelah melewati titik terendah dalam hidupnya, seakan-akan grafiknya langsung naik, karena Allah menghibur Nabi dan memperjalankan Beliau ke Baitul Maqdis, sebagaimana yang kita baca dalam Surah Al-Israaayat 1. IsraMiraj merupakan bukti betapa sentralnya posisi Baitul Maqdis, karena jika Allah yang Maha Berkuasa berkehendak, bisa saja bagi Allah untuk menaikkan Rasulullahke langit itu langsung dari Makkah, tanpa melewati Baitul Maqdis. Jadi, ada pesan lain, karena Rasulullah diperjalankan dulu ke Baitul Maqdis, ke negeri para nabi, dan kemudian baru dari situ diangkat ke langit dan menerima perintah shalat lima waktu. Yang kemudian diturunkan lagi ke Baitul Maqdis, dan kembali ke Makkah, hanya dalam waktu semalam. 

  

    Ini sebuah mukjizat. Karena perjalanan dari Makkah ke Baitul Maqdis itu normalnya membutuhkan waktu dua bulan pulang pergi. Sementara Nabi ﷺ diberangkatkan menggunakan buroq hanya dalam waktu semalam, pulang pergi. Ini merupakan ujian juga untuk para Shahabat radhiyallahuanhum yang baru masuk Islam. Terkait tentang Isra’ Mi’raj ini juga ada kisah yang terkait dengan Shahabat yang mulia, Abu Bakar radhiyallahuanhu. Karena di dalam peristiwa Isra’ Mi’raj ini, Nabi ﷺ dicaci maki saat kembali ke Makkah. Karena perjalanan yang hanya mengambil waktu selama semalam ini, seakan-seakan seperti khayalan saja untuk orang yang hanya mengandalkan logika, terutama untuk kaum kafir Quraisy. Pada saat itu, rencananya kaum Kafir Quraisy memanfaatkan momentum ini untuk melemahkan Islam di Makkah. Mereka ingin menggiring opini bahwa Nabi ﷺ berbohong. Di saat penduduk Makkah gempar dengan peristiwa Isra’ Mi’raj ini, maka Kaum kafir Quraisy langsung menceritakan kepada Abu Bakar dengan maksud menghasut. Ternyata di luar dugaan, keimanan Abu Bakar memang sangat luar biasa. Abu Bakar tidak melihat langsung, tidak berada di lokasi. Namun, ketika mendengar bahwa yang menyampaikan berita adalah Nabi ﷺ, maka tanpa ragu sedikitpun, Abu Bakar menjawab bahwa bila ini dikatakan oleh Nabi Muhammad ﷺ, maka itu pasti benar. Inilah Abu Bakar radhiyallahuanhu. Yang membenarkan. Yang beriman dengan utuh. Saat ini, Beliau menjadi penentu. Karena saat beliau membenarkan, maka masyarakat Makkah yang telah beriman kemudian menjadi stabil lagi. Dari sinilah Abu Bakar mendapatkan gelar Ash-Shiddiq. Gelar yang berhubungan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj. Gelar yang berhubungan dengan Baitul Maqdis. 


Koneksi Abu Bakar RA dengan Baitul Maqdis (Periode Mekkah)

  • Spriritual: Kiblat Pertama dan Masjid Abu Bakar
  • Religius: Ayat-ayat Al-Qur'an tentang para Nabi yang tinggal dan hijrah ke Baitul Maqdis serta adanya peristiwa Isra' Miraj
  • Politik: Perang Romawi Timur dan Persia (memperhatikan geopolitik global Baitul Maqdis)


Ikatan Dengan Baitul Maqdis (Periode Madinah)

    Di Madinah pun, Rasulullah ﷺ pun masih terus mempertahankan ikatan hati, jiwa dan pikiran Ummat Islam yang telah terjalin kuat dengan Baitul Maqdis. Di antaranya adalah banyaknya hadits-hadits yang turun berkaitan dengan keutamaan Baitul Maqdis:

  • Kabar gembira yang disampaikan Rasulullah ﷺ pada perang Tabuk, bahwa di antara tanda kiamat adalah peristiwa pembebasan Baitul Maqdis.
  • Dan saat di Madinah, Baitul Maqdis menjadi bahan diskusi dalam kehidupan sehari-hari kaum Muslimin, baik kalangan dewasa, anak-anak, laki-laki, perempuan, atau pun di kalangan hamba sahaya. Sebagaimana Hadits Maimunah binti Sa’d: Dari Maimunah-bekas sahaya Nabi ﷺ-bahwasanya dia pernah berkata, Wahai Rasulullah, fatwakan kepada kami tentang Baitul Maqdis.” Maka, Beliau bersabda: Datangilah ia dan shalatlah di dalamnyaketika di negeri tersebut sedang terdapat peperanganjika kalian tidak dapat shalat di dalamnya maka utuslah seseorang membawa minyak (yang dengannya) dinyalakan di lentera-lenteranya.“ 

Proses politik yang dilakukan Rasulullah ﷺ: Mengajak penguasa Baitul Maqdis untuk masuk Islam


Kronologi Persiapan Militer

Hudaibiyah > Mut'ah > Tabuk > Pasukan Usamah


Surat Rasulullah ﷺ kepada Heraklius

    Setelah disepakati Perjanjian Hudaibiyyah antara kaum Muslimin dan Quraisy yang berperang, Rasulullah ﷺ mengirim beberapa surat kepada para pemimpin internasional ketika itu. Termasuk surat kepada Kaisar Romawi Heraklius. Ketika itu Heraklius telah meninggalkan Homs menuju Aelia (Baitul Maqdis) sebagai bentuk rasa syukur kemenangannya atas Persia. 

  

Ghazwah Tabuk (Perang Tabuk)

    Meskipun tidak terjadi pertempuran dengan pasukan Bizantium, Rasulullah ﷺ menggunakan waktu beliau di Tabuk untuk mengadakan Sulh-perjanjian-perjanjian damai di sejumlah tempat menuju kawasan Baitul Maqdis.Perjanjian ini penting bagi persiapan logistik kelak saat Abu Bakar radhiyallahuanhu melanjutkan rencana pembebasan Baitul Maqdis.


Misi Usamah bin Ziad radhiyallahu 'anhu

  • Target yang diberikan Rasulullah adalah untuk mencapai bagian dari Baitul Maqdis kemudian kembali. Sayanganya, misi tersebut tidak dapat terlaksana pada masa hidup Rasulullah SAW
  • Ketika Usamah r.a baru sampai diperbatasan Madinah, Rasululah SAW wafat dan menjalankan misinya ditunda
  • Misi ini penting karena Rasulullah SAW selalu menanyakan misi dan bersikeras tentang pengiriman pasukan Usamah berkali-kali selama sakitnya sebelum beliau meninggal
  • Rasulullah SAW bersabda,"Wahai manusia, tugas Usamah r.a bin Zaid harus terus berjalan." Beliau memastikan misi Usamah r.a itu berjalan
Misi ini harus dilanjutkan , kalau engga momentumnya akan hilang, seperti rancangan awal Rasulullah SAW yang melaui perjanjian, jadi tidak pas waktunya. Makanya, Rasulullah SAW memastikan misi ini harus berjalan.

Koneksi Abu Bakar r.a dengan Baitul Maqdis (Periode Madinah)

  • Spiritual: Berlanjutnya kiblat menghadap Baitul Maqdis dan janji akan kemenangan
  • Religius: Terminologi Al-Qur'an (Al-Arah, Al-Muqaddasah/Tanah Suci), hadist maupun diskusi tentang kemuliaan dan pembebasan Baitul Maqdis
  • Politik: Perang mut'ah dan tabuk

Lanjutan Misi Usamah bin Ziad radhiyallahu 'anhu

  • Mendapat penolakan dari para sahabat termasuk di dalamnya Umar bin Khattab radhiyallahuanhu
  • Mempertimbangkan kondisi Jazirah Arab (banyak orang-orang yang murtad, dan munculnya nabi-nabi palsu) dan Usia Usamah radhiyallahuanhu yang masih muda dibandingkan sahabat-sahabat senior lain
  • Abu Bakar radhiyallahuanhu bersikeras melanjutkan pengiriman pasukan Usamah radhiyallahuanhu
  • Karena ada hal-hal dan rencana yang hanya Abu Bakar saja yang mengetahui dari Nabi ﷺ. "Anda harus tahu bahwa Rasulullah mengalihkan semua perhatian ke arah Syam, tetapi beliau wafat sebelum melaksanakan rencananya. Rasulullah ﷺ memberitahuku tentang ini sebelum wafatnya." Abu Bakar juga berkata kepada ‘Umar bin Khattab, ”Aku bersumpah demi Allah akan mengirimkan pasukan Usamah berangkat sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah. Dan aku tidak akan menentang keputusan Rasulullah bahkan jika tinggal aku seorang diri di kota ini." 
  • Semoga ibumu menangis karena kematianmu wahai Umar. Rasulullah SAW memerintahkan dia (Usamah) dan engkau memintaku untuk memberhentikan dia.
Rute Pasukan Usamah r.a 
1. Ke wilayah Mut'a lalu bergerak ke,
2. Wilayah Day'i Al-Balah (Gaza sekarang),
3. Lalu ke wilayah Yubna dan beliau membuat api besar sebagai penanda bahwa pasukan Muslim sudah ada di sana


Hikmahnya: Pasukan Romawi mendapat tekanan psikologis di mana bebarengan dengan info Rasulullah SAW wafat, pasukan Muslim pun sampai di Yubna, yang menandakan bahwa wafatnya Rasulullah SAW tidak mengendorkan semangat umat Muslim untuk merebut Baitul Maqdis. Bahwa walau pemimpin umat Muslim wafat tapi umat Muslim tetap dalam keadaan yang prima, tidak lemah.

Perang Riddah

Di waktu yang bersamaan datang tantangan dari internal yaitu:

a. Umat Islam banyak yang murtad

b. Umat Islam menolak membayar zakat

c. Muncul Nabi-Nabi palsu


Awalnya strategi Abu Bakar r.a umat Islam bertahan namun ketika muncul Nabi palsu berubah menjadi menyerang agar bisa mememusnakan Nabi palsu.

Setelah perang riddah, seperti menyatukan kembali umat Muslim yang sempat terepcah-pecah akibat wafatnya Rasulullah SAW.


Pengiriman Komando

Romawi Timur (dikirim ke Baitul Maqdis)

1. Khalid bin Said

2. Abu Ubaydah

3. Syurahbil bin Hasanah

4. Yazid bin Abi Sufyan

5. Amr bin Al-Aas

6. Khalid bin Walid


Instruksi Abu Bakar kepada Amr bin Ash: Kepadamu aku instruksikan ke Palestina dan Aelia.” 


Persia

1. Al-Muthannah bin Haarithah

2. Khalid bin Walid 


Karena ada keutamaan Baitul Maqdis dan rancangan rencana Rasulullah SAW jadi lebih memilih mengalahkan Romawi Timur (agar tidak kehilangan momentum sesuai rencana Rasulullah SAW)



Instruksi Abu Bakar radhiyallahu 'anhu ke Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu, dalam surat yang dikirim oleh Abu Bakar kepada Khalid bin Walid, beliau berkata: "Bersegeralah kepada saudara-saudaramu di Syam, demi Allah, satu kota di antara kota-kota lain di Baitul Maqdis yang Allah akan tolong kita untuk membebaskannya, lebih baik bagiku daripada menaklukkan satu provinsi besar dari provinsi-provinsi yang ada di Irak (Ibn al-Murajja)." Berikut rute yang tempuh Khalid bin Walid r.a untuk jalan ke Syam:


Perang Ajnadin 13 H/634 Masehi

> Kekuatan Muslim 30.000 Vs Kekuatan Romawi 100.000

> Pasukan Muslim bergerak ke Damaskus

> Saat perang ini wafat Abu Bakar r.a

> Pembebasan Damaskus


Saat beliau sebelum wafat telah mengisyaratkan penggantinya yaitu Umar bin Khattab r.a dan ditakdirkan Allah SWT untuk membebaskan Baitul Maqdis.


Perang Yarmuk 15 H/636 Masehi

> Kekuatan Muslim 30.000 Vs Kekuatan Romawi 200.000

> Peperangan selama 6 hari

> Peperangan yang sangat menentukan pembebasan Baitul Maqdis

> Baitul Maqdis tidak akan bisa dibebaskan tanpa hasil dari peperangan yarmuk

> Setelah kalah dari perang yarmuk, Romawi idak punya kekuasaan lagi di Syam


Terdapat bukti jaminan Umar bin Khattab kepada penduduk Aelia (Baitul Maqdis)

Setelah pembebasan Baitul Maqdis, Nasrani tetap yang mayoritas,Islam menjaga keasliannya dan yang membedakan hanya sekarang penguasa muslim.


Apa yang kita pelajari harus kita amalkan sehari-hari

1. Jangan lupa terus berdoa,baru lanjut ikhtiar sesuai dengan kemampuan masing-masing

2. Jangan lua menghidupkan sunnah-sunnah yang terlupakan, seperti membaca QS. Al-Isra walau tidak full, maka baca halaman pertama saja atau 1 ayat saja yang berkaitan dengan Isra' Miraj

3. Jangan lupa mengikuti perkembangan Baitul Maqdis agar bisa berkontribusi sesuai kemampuan kia


Ayo persembahkan hadiah terbaik kita, berupa:

  • Ilmu/Keahlian
  • Harta
  • Generasi yang ikut dalam pembebasan Baitul Maqdis



Jazakumullahu Khairan

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sc: Ustadz Ahmad Muthi,STP.,MA


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Series Baitul Maqdis-4: Bagaimana Manusia Teristimewa ﷺ Mengistimewakan Tanah Suci (Baitul Maqdis Dalam As-Sunnah)

Series Baitul Maqdis-5: Membebaskan Tanah Suci yang Terjajah I (Lini Masa Nabi Musa a.s & Nabi Yusya’ bin Nun a.s)